Ironi Azu, Tewas Saat Pertama Nonton Bola

Azu mengidolakan Persija. Laga itu pertama dan terakhir kali Azu nonton di stadion.

VIVAnews – Tidak seperti biasanya, rumah Yahya di Menteng, Jakarta Pusat, itu ramai, Senin 28 Mei 2012. Sejumlah orang berkumpul di depan rumah mungil berukuran 3X10 meter itu. Yang lain, terus berdatangan.

Orang-orang itu sedang melayat. Anak Yahya, Lazuardi alias Azu meninggal. Jenazah Azu disalatkan sekitar pukul 12.30 WIB. Lantas, dibawa ke Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta Selatan.

Azu merupakan salah satu dari tiga suporter yang tewas usai menyaksikan pertandingan sepak bola Liga Super Indonesia antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Gelora Bung Karno, Minggu 27 Mei 2012.

Selama ini pemuda berusia 29 tahun ini memang dikenal hobi sepak bola. Tapi, kehadirannya di GBK kemarin merupakan kesempatan yang pertama sekaligus terakhir bagi Azu untuk menyakskan pertandingan bola secara langsung di stadion.

“Dia memang suka bola. Sering main sama teman-temannya di lapangan di sekitar sini. Tapi kalau nonton, dia cuma lewat televisi. Dan kemarin itu pertama kalinya dia ke stadion, nontong langsung,” ujar Yahya.

Azu memang mengidolakan Persija Jakarta. Namun, dia sejatinya tidak tergabung dalam The Jakmania, suporter fanatik tim berjuluk “Macan Kemayoran” itu.

Yahya mengaku tak pernah berfikir anak pertamanya itu rela menyusul teman-temannya di GBK. Padahal, laga Persija melawan Persib selama ini dikenal panas dan penuh dengan ketegangan.

Azu memang tak berangkat bersama Jakmania Menteng yang sebelumnya berangkat menumpang bus. Azu menyusul ke SUGBK dengan sepeda motornya, Yamaha Jupiter warna biru muda dengan plat nomor B 3671 TW.

“Boncengan sama temannya ke Senayan,” kata Yahya yang mengaku sedang berada di luar kota saat insiden itu terjadi. “Saya lagi di Anyer kemarin, ada urusan. Saya dapat informasi itu dari teman-temannya.”

Menurut informasi yang diterima Yahya, anaknya itu berhasil bertemu dengan teman-temannya di GBK. Namun, Azu yang tidak lulus SMK itu terpencar dari rombongan besar. Dia bersama sejumlah kecil temannya menunggu di dekat kolam renang sekitar kawasan Parkir Timur Senayan.

Azu bersama rekan-rekannya itu kemudian sempat berdebat dengan Jakmania lainnya. Apalagi, pada saat kejadian Azu dan teman-temannya tidak menggunakan atribut Jakmania. Perdebatan itu rupanya berujung pada keributan dan pengeroyokan terhadap Azu dan kawan-kawan.

“Pas meninggal langsung dibawa ke RSCM. Saya dapat kabar jam 19.00 WIB. Langsung saya pulang dari Anyer malam itu juga,” ujar Yahya.

Kendati begitu, Yahya yang berusia 61 tahun tidak mendapat firasat apa-apa sebelum kejadian itu. Firasat itu, hanya dirasakan istrinya yang juga ibu Azu, Rihana.

“Saya seharian itu merasa badan saya lemas banget. Malas ngapa-ngapain juga. Perasaan saya enggak enak. Kakak saya bilang, kayanya bakal ada yang meninggal,” kata Rihana.

Jenazah Azu kini sudah dikebumikan. Tak ada tuntutan apa-apa dari keluarga atas persitiwa ini. Namun, sang Ayah meminta agar pihak kepolisian dapat mengusut tuntas peristiwa ini. “Saya memaafkan dan ikhlas. Tapi hukum adalah hukum. Proses hukum buat pelakunya. Hukum dengan hukuman yang setimpal,” kata Yahya sambil mengisap rokok kreteknya. (eh)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s